Sabtu, 16 Maret 2019

Jurnal Praktikum Kimia Organik 1 Percobaan Reaksi-Reaksi Hidrokarbon


JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
“REAKSI-REAKSI HIDROKARBON”






DISUSUN OLEH:
PUTRI AYU INDAH LESTARI  (A1C117005)



DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019


Percobaan 4
I.         Judul              : Reaksi-Reaksi Hidrokarbon
II.      Hari/ Tanggal: Minggu/ 17 Maret 2019
III.   Tujuan           : Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu;
1.    Dapat mengetahui perbedaan sifat-sifat kimia hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh dan aromatik
2.  Dapat mengetahui jenis reaksi kimia untuk membedakan ketiga golongan senyawa hidrokarbon
3.  Dapat mengetahui cata atau teknik pengujian ketiga golongan senyawa hidrokarbon

IV.   Landasan teori
Secara umum senyawa-senyawa hidrokarbon tersusun dari atom karbon dan hidrogen yang biasa disebut dengan senyawa alkana, alkena dan alkuna. Dalam kehidupan pemanfaatan senyawa hidrokarbon yaitu melalui rekasi-reaksi pembakaran sempurna maun tidak sempurna. Pembakara tak sempurna dihasilkan bila tidak ada oksigen yang cukup untuk membakar  bahan bakar sepenuhnya menjadi karbon dioksida dan air (menghasilkan CO dan CO). Sedangkan pada reaksi pembakaran sempurna itu terjadi apabila senyawa bereaksi dengan zat pengoksidasi, menghasilkan senyawa berbentuk CO2, H2O, atau SO2. Contoh rekasi-rekasi senyawa hidrokarbon yaitu bahan bakar yang sering kita gunakan baik berupa gas maupun bensin ataupun minyak tanah.  Dalam rekasi hidrokarbon terjadi biasanya menggunakan katalis dilengkapi dengan alumunium klorida  sehingga mengubah senyawa hidrokarbon rantai lurus menjadi bercabang atau disebut isomerisasi. Contohnya isomerisasi butana menjadi isobutana yang digunakan pada bahan baku pembuata iso oktana yang dikenal sebaga penyusun utama pada bahan bakar premiumdan juga sebagai penentu kualitas premium atau bensin. Disamping itusenyawa-senyawahidrokarbon dapat diubah menjadi senyawa alkil halida yang disebut sebagai reaksi subtitusi melalui klorinasi atau brominasi dibawah sinar UV atau direaksikan pada suhu yang sangat tinggi yaitu 450­0C . kemudian pada senawa-senyawa hidrokarbon yang tidak jenuh dapat mengalami pemutusan ikatan rangkap melalui reaksi adisi menggunakan berbagai macam halida (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/)

Hidrokarbon merupakan senyawa organik yang mengandung unsur karbon dan  unsur hidrogen pula. Hidrogen memeiliki berbagai jenis, jika ditinjau berdasarkan strukturnya yaitu  hidrokarbon alifatik meliputi tiga bagian yaitu alkana yang hanya mengandung ikatan-ikatan tunggal atau biasa disebut  jenuh. Alkena dan alkuna, masing-masing mempunyai ikatan rangkap yaitu rangkap dua dan rangkap tiga atau sering disebut ikatan tak jenuh . selanjutnya yaitu  hidrokarbon aromatik  merupakan senyawa lingkar yang strukturnya berkaitan dengan benzena yang mempunyai enam elektron pi, didalam satu lingkar yang beratom 6. Pada percobaan ini kita akan membahas mengenai beberapa reaksi pokok untuk  hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik. Pada alkana, ia akan bereaksi lambat atau tidak bereaksi dengan dengan unsur Brom pada suhu kamar ataupun keadaan gelap, namun dapat bereaksi apabila terdapat cahaya yang membantu jalannnya reaksi dan reaksi akan berlangsung cepat.
R – H       +          Br2                →                 R – Br             +  HBr
Dari  reaksi diatas akan terjadi hilangnya warna brom (coklat) dan terbentuknya hidrogen bromida (gas). Sebaliknya brom kam mudah bereaksi apabila terjadi reaksi adisi pada alkena dengan suhu normal dan tepat terjadinya reaksi tidak memerlukan cahaya. Maka brom terjadi reaksi cepat bila di homogenkan dengan alkena.
R – CH = CH –R       +      Br2       →        R – CHBr – CHBr – R
Walaupun Benzena (C6H6) itu merupakan senyawa tak jenuh, dalam pengertian umumnya benzena memiliki ikatan-ikatan C = C, tetapi ikatan tersebut tidak menjalankan reaksi-reaksi seperti diharapkan pada alkena. Benzena sukar melakukan oksidasi dan lebih mudah mengalami substitusi dari pada adisi yaitu:
C6H6          +          Br2       →        C6H5 – Br        +          Br
C6H6            +          HNO3  →        C6H5 – NO2     +          H2O (Tim Kimia Organik, 2016)

Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan karbon yang terdapat didalamnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan saja dinamakan hidrokarbon jenuh. Sedangkan hidrokarbon pada dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh. Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Disebut hidrokarbon karena didalamnya hanya terkandung atom karbon dan juga hidrogen. Disebut jenuh karena hanya memiliki ikatan tunggal C-H dan C-C saja. Alkana memiliki rumus CnH2n+2, dimana n adalah bilangan asli yang menyatakan jumlah atom karbon. Alkana juga disebut sebagai senyawa alifatik. Hal ini dikarenakan lemak-lemak hewani mengandung rantai panjang yang mirip dengan alkana. Alkena merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap karbon-karbon. Alkena terdapat dalam jumlah berlebih da alam. Etilena, sebagai contohnya adalah hormon tanaman yang memacu pematangan buah, dan α-pinen adalah senyawa terbanyak dalam turpentin (Fessenden, 1997).

Menurut Yoshito (2010), jenis-jenis hidrokarbon dan senyawa-senyawanya berdasarkan struktur nya terbagi atas :
1.   Hidrokarbon alifatik yang terdiri atas rantai karbon yang tidak mencakup bangun bangun siklik. Pada golongan ini sering disebut sebagai hidrokarnon rantai terbuka (hidrokarbon rantai siklik). Contoh hidrokarbon alifatik adalah C2H6 (etena) dan C5H12 (pentana).
2.    Hidrokarbon Alisiklik atau hidrokarbon siklik terdiri atas atom karbon yang tersusun atas satu lingkar ataupun lebih.
3.    Hidrokarbon aromatik merupakan golongan khusus senyawa siklik yang digambarkan sebagai lingkar enam dengan ikatan tunggal dan rangkap bersilih ganti. Kelompok ini digolongkan terpisah dari hidrokarbon asiklik dan alifatik karena sifat fisika dan kimia yang khas .

Menurut Sumardjo (2009), Reduksi dan oksidasi termasuk reaksi-reaksi yang sering kita jumpai di dalam kimia organik. Reaksi-reaksi ini mampu mempengaruhi perubahan senyawa-senyawa dengan ikatan rangkap dua, ikatan rangkap tiga, alkohol, aldehid, keton dan senyawa-senyawa lain.  Reaksi-reaksi tersebut meliputi:
1.       Reaksi reduksi adalah reaksi antara satu senyawa dengan hidrogen, sedangkan reaksi oksidasi adalah reaksi antara satu senyawa dengan oksigen. Maka hasil-hasil reduksi (reduction product) dan hasil-hasil oksidasi (oxidation product) tergantung dari substrat dan kondisi proses.
2.           Reaksi adisi artinya suatu penambahan atau penangkapan. Dalam reaksi adisi, suatu zat  jika ditambahkan ke dalam suatu senyawa yang mempunyai ikatan rangkap maka ikatan rangkap itu berubah menjadi ikatan tunggal.
3.               Reaksi substitusi adalah reaksi penggantian atom atau gugus dengan atom ataupun  gugus lain. Jadi, dalam reaksi ini, satu atom atau gugus yang terdapat dalam rantai utamanya akan meninggalkan rantai utama tersebut dan  akan rantai yang kosong akan diganti oleh atom gugus yang lain.
4.       Eliminasi artinya penghilangan atau pelepasan reaksi. Reaksi eliminasi dapat dianggap berlawanan dari reaksi adisi. Pada reaksi ini, dua atom atau gugus yang masing-masing terkait pada dua buah atom karbon yang letaknya berdampingan dilepaskan oleh suatu pereaksi sehingga menghasilkan ikatan rangkap.

V.      Alat dan Bahan
5.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
·         Tabung reaksi
·         Pipet tetes
·         Kertas lakmus
·         Gelas piala
·         Bunsen
·         Kaki tiga
·         Kasa

5.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
·         Alkana
·         Brom/CCl4
·         Sikloheksena (alkena)
·         Benzena
·         Potongan besi
·         Aquades
·         Kalium permanganat (0,5%)
·         Asam sulfat pekat
·         Asam nitrat pekat
·         Es

VI.   Prosedur Kerja
Sebagai cuplikan untuk alkana digunakan ligroin yang mempunyai titik didih 90-100˚C, yakni suatu campuran isomer-isomer heptana. C7H16. Sebagai cuplikan untuk alkena gunakan sikloheksena dan sebagai cuplikan untuk senyawa aromatic guna benzana. Semua pengujian dilakukan didalam tabung reaksi yang kering.
      6.1  Brom dalam karbon tetraklorida
·      Dimasukan kedalam tabung reaksi masing-masing alkena 1 ml
·      Ditambahkan 10-15 tetes brom/ CCL4 dan digoncanngkan
·      Ditempatkan tabung yang satu kedalam tempat yang gelap (lemari)
·      Ditempatkan tabung yang lain disinari matahari atau lampu pijar   selama beberapa         menit.
·     Dibandingkan kedua tabung dan ditiup masing-masing mulut tabung untuk mengetahui   hydrogen bromide yang akan menimbulkan asap atau dengan menggunakan kertas     lakmus.
·      Dimasukan kedalam tabung reaksi 1 ml sikloheksana (alkena)
·      Ditambahkan 10 tetes brom/ CCL4 dan digoncangkan tabung
·      Diamati apa yang terjadi
·      Diuji bagi kemungkinan adanya pengeluaran hydrogen bromide.
·      Dimasukan benzene 1 ml kedalam tabung reaksi
·      Ditambahkan 1 ml brom dalam karbon tetraklorida dan digoncang
·      Diamati hasilnya.
      6.2   Brom
·      Ditempatkan 1ml benzene kedalam tabung reaksi
·      Dimasukan kedalam tabung reaksi yang lain potongan besi
·      Ditambahkan 1 ml benzene untuk menurunkan potongan besi
·      Ditambah 3 tetes brom kedalam masing-masing tabung
·      Ditempatkan masing-masing tabung kedalam gelas piala yang berisi  air panas selama 15 menit
·      Diamati warna masing-masing tabung dan di catat hasilnya  

      6.3  Larutan Kalium Permanganat
·  Didalam dua tabung reaksi masing-masing berisi 1 ml larutan kalium permanganate (0,5%)
·      Ditambahkan 5 tetes alkana ke tabung yang satu dan 5 tetes sikloheksena ke tabung yang lain
·      Digoyangkan masing-masing tabung dengan baik selama 1-2 menit dan catat hasilnya
·    Didalam tabung reaksi ketiga yang berisi 1 ml benzene tambahkan 2 ml larutan kalium  permanganate, gocangkan dengan baik dan amati hasilnya

      6.4  Asam Sulfat Pekat
·      Ditempatkan masing-masing 2 ml asam sulfat pekat kedalam dua tabung reaksi
·      Ditambahkan 10 tetes alkana, dan kepada tabung yang lain tambahkan pula 10 tetes sikloheksena
·      Digoncangkan masing-masing tabung dengan baik dan catat hasil-hasilnya (awas hidatkan agar asam tidak mengenai kulit atau baju)
·      Dibuang isi masing-masing tabung ke dalam satu gelas kimia yang berisi air sedikitnya 50 ml

      6.5  Asam Nitrat
·      Dikerjakanla percobaan berikut ini dalam lemari asam
·      Dicampurkan 0,5 ml benzene dan 4 ml asam nitrat pekat kedalam satu tabung reaksi  yang besar
·      Ditambahkan satu butir batu didih dan didihkan campuran perlahan-lahan selama dua menit atau sampai menghasilkan suatu larutan yang homogeny
·      Diperhatikan betul agar pendidihan berlangsung perlahan-lahan, jika tidak demikian benzxena akan mendidih keluar mulut tabung dan terbakar
·      Dituangkan larutan ke dalam suatu gelas piala yang berisi 5-10 gram es
·      Dicatatlah bau dari cairan yang memisah dan bandingkan dengan bau daripada nitrobenzene yang terdapat di lemari

      6.6  Bahan Tak Dikenal
Diminta kepada asisten senyawa yang tak dikenal dan tentukanlah apakah senyawa tersebut senyawa tak jenuh, jenuh atau aromatic


Buat yang ingin tahu lebih lanjut bagaimana cara menentukan titik leleh suatu zat, mari simak video berikut ini:


Untuk mengetahui sebatas mana pemahaman kalian, Yuk jawab pertanyaan dibawah ini!
1.  Pada uji bromin pada video tersebut, apa kegunaan alumunium foil yang dipakai untuk menutup tabung reaksi?
2.     Mengapa pada penambahan larutan KMnO4  pada 6 tabung reaksi yang bereda memberikan hasil yang berbeda yang tertera pada video diatas?
3.   Pada reaksi-reaksi hidrokarbon pada video diatas, bagaimana metode identifikasi senyawa hidrokarbon dan jelaskan?

Jumat, 08 Maret 2019

Jurnal Praktikum Kimia Organik 1 "Pemurnian Zat Padat"


            JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
“PEMURNIAN ZAT PADAT”



DISUSUN OLEH:
PUTRI AYU INDAH LESTARI  (A1C117005)



DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019


Percobaan 3

I.              Judul                  : PEMURNIAN ZAT PADAT
II.           Hari , Tanggal    : Sabtu, 9 Maret 2019
III.        Tujuan                 : Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu sebagai berikut:
a.    Dapat melakukan krsitalisasi dengan baik.
b.    Dapat memilih pelarut sesuai untuk rekristalisasi.
c.    Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan.
d.   Dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi.
IV.        Landasan Teori.
Zat padat yang memiliki campuran lain didalamnya maka diperlukan suatu pemurnian yang dapat dilakukan dengan pendekatan dan teknis yang khusus. Secara praktisnya dengan mengetahui dengan cara mengiderntifikasi zat padat yang akan dimurnikan dan kita juga harus mengetahui sifat-sifat zat tersebut baik sifat fisik maupun sifat kimianya. Karena dalam suatu pemisahan zat murni mengetahui sifat-sifatnya dapat menentukan keberhasilan pemisahan zat padat dalam suatu pelarut. Sehingga dalam melakukan suatu percobaan, praktikan harus mengetahui dengan baik jenis-jenis pelarut organik dan gradien kepolarannya pada saat mencampurkan dua atau tiga jenis pelarut untuk melarutkan zat padat. Selain itu kita harus memahami faktor teknis dalam memurnikan zat padat yaitu dengan teknik kristalisasi, teknik khromatografi dan teknik sublimasi. Dari berbagai teknik tersebut kita dapat menentukannya tergantung dari kompleksifitas kemurnian zat padat dan tentunya sifat-sifat kimia maupun fisikanya. Jika semakin kompleks campuran maka menuntut teknik yang dipakai juga semakin kompleks dalam memisahkan zat tersebut. Namun, kita harus mempertimbangkan juga dalam penggunaan alat dan bahan serta waktu yang dibutuhkan dalam pemurnian. Setelah kita mampu memurnikan zat padat tersebut kita perlu menguji tingkat kemurnian yang baik dengan menggunakan teori pendekatan titik leleh atau menggunakan khromatografi lapis tipis.

Menurut Sastrohomidjojo (2005) Kristal dapat terbentuk jika dalam suatu larutan terjadi suatu keadaan atau kondisi lewat jenuh. Dimana kondisi tersebut terjadi karena suatu pelarut sudah tidak memiliki kemampuan untuk melarutkan zat terlarutnya, atau dapat dikatakan bahwa jumlah zat terlarut sudah melebihi kapasitas pelarut, sehingga kita dapat memaksa agar krisatal dapat terbentuk sempurna denga cara mengurangi jumlah pelarutnya. Sehingga kondisi lewat jenuh dapat dicapai proses pengurangan pelarut yang dapat dilakukan denga cara sebagai berikut ;
a.       Penguapan.
b.      Pendinginan.
c.       Penambahan senyawa lainnya.
d.      Reaksi kimia.

          Menurut Tim Kimia Organik 1 (2016) Salah satu metode yang baik digunakan untuk memurnikan zat padat organik yang secara efektif dilakukan dengan cara rekristalisasi. Rekristaliasi adalah cara kristalisasi yang selektif suatu senyawa dari campuran zat padat yaitu dilakukan dengan melarutkannya dalam suatu pelarut yang cocok sekitar titik didihnya, kemudian disaring selagi panas untuk memisahkan zat padat tersuspensi atau tidak larut didalam larutan. Prinsip pada metode rekristalisasi adalah jika senyawa tertentu dalam campuran akan memiliki sifat kelarutan tertentu yang berbeda dari campuran lainnya dalam suatu system tertentu. Namun dalam prakteknya, rekristalisasi diusahankan seminimal mungkin jumlah pelarut digunakan sehingga jumlah zat paling banyak yang bisa diperoleh kembali sewaktu proses pendinginan larutan panas. Larutan  jangan terlalu pekat, oleh karena itu terlebih dahulu jumlah minimum pelarut harus diperhitungkan, kemudian baru ditambahkan sedikit demi sedikit kelebihannya (20 – 100%). Dalam metode ini untuk penurunan suhu harus diatur kecepatannya, jangan terlalu cepat. Beberapa prinsip operasional rekristelisasi meliputi tiga prinsip yaitu :
a.         Dengan melarutkan zat padat campuran dalam pelarut yang minimal, yang pada umumnya pada titik didihnya.
b.         Dengan kristalisasi selektif dalam suatu pelarut tertentu, yang mana dapat dilakukan dengan cara menurunkan suhu larutan secara perlahan.
c.         Penyaringan terhadap kristal murninya dipisahkan dari larutannya.
          Pada saat melakukan rekristalisasi kita haruslah tau apa saja pelarut yang dapat digunakan. Pelarut yang paling banyak digunakan dalam pross rekristalisasi adalah pelarut cair, karena harganya yang ekonimis, tidak relative dan setelah melarutkan zat padat organik bila dilakukan penguapan akan lebih mudah memperolehnya kebali. Criteria pelarut yang baik yaitu:
a.       Tidak dapat bereaksi dengan zat padat yang akan direkristalisasi.
b.      Pada suhu kamar atau dalam suhu kristalisasi zat padatnya harus memiliki keterbatasa larutan (sebagian) atau relative tak larut dalam pelarut.
c.       Pada suhu didih pelarutnya zat padatnya memiliki kelarutan yang tinggi (larut baik).
d.      Zat padat yang akan rekristalisasi memiliki titik didih pelarut yang tidak melebihi titik leleh.
          Pada pratikum ini kita menggunakan pemisahan sublimasi. Sublimasi adalah proses dimana terjadi perubahan zat padat menjadi uap dan uap terkondensasi langsung menjadi padat tanpa melalui fasa cair. Berdasarkan diagram tekanan – suhu (p – t) untuk air, sublimasi akan terjadi untuk zat mempunyai titik tripel di atas titik tripel air. Sehingga pada kondisi pada suhu kamar zat tersebut dari fasa padat dapat langsung berubah menjadi uap atau sebaliknya tanpa memalui fasa cair.
       
       Rekristalisasi adalah teknik pemurnian zat padat dari zat pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Pada proses rekristalisasi prinsip dasarnya yaitu terjadi perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan zat pengotor yang dihasilkan. Umumnya pada saat reksristalisasi jumlah konsentrasi total pengotor biasanya lebih kecil daripada konsentrasi zat yang dimurnikan, pada saat dingin, konsentrasi pengotor yang kecil tetap dalam kandungan larutan sedangkan zat yang konsentasi yang besar akan mengendapa dalam larutan. Kemurnian zat ditingkatkan dengan cara disaring endapan dimana sebelumnya telah terbentuk endapan. Dilanjutkan dengan melarutkan ulang dan di endapkan lagi endapan yang terbentuk tadi. Sehingga diketahui ion pengotor dalam konsentrasi yang rendah selama pengendapan. Dalam pembentukan kristal jika semakin besar kristal-kristal yang terbentuk dalam pengendapan, maka semakin mudah mereka dapat disaring dan juga cepat sekali kristal-kristal itu akan turun keluar larutan yang dapat membantu penyaringan. Pada dasarnya prinsip rekristalisasi berhubungan erat dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang dapat memisahkan diri dari fase padat dan keluar kedalam larutannya. Endapan terjadi jika larutan bersifat lewat jenuh. Sehingga kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi dari larutan jenuhnya. Dimana kelarutan bergantung pada tekanan, suhu, konsentrasi bahan lain, dan komposisi pelarut. Dalam rekristalisasi, ada beberapa langkah yang dilakukan yaitu: memilih pelarut yang sesuai, melarutkan zat terlarut, menghilangkan warna larutan, memindahkan zat padat, mengkristalkan larutan, mengumpul dan mencuci kristal padatan dengan cara filtrasi, dan terakhir mengeringkan produknya atau hasil yang didapatkan (Anita Pinalla, 2011)
          
            Proses metode  sublimasi memliki kesamaan dengan destilasi. Isila destilasi sering kita dengar dalam proses pemisahan. Nah destilasi sendiri digunakan  untuk perubahan dari cairan  atau padatan menjadi uap setelah mengalami pendinginan berubah menjadi cairan ataupu padatan. Sedangkan untuk sublimasi adalah suatu proses perubahan bentuk padatan lansung perubah menjadi uap tanpa melalui bantuk cairan dan setelah mengalami pendinginan langsung terkondensasi menjadi padatan kembali (Anwar, 2008)

V.                V. Alat dan Bahan.
5.1  Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
·         Gelas kimia 100 ml.
·         Pemanasan Bunsen.
·         Corong Bruchner.
·         Pengaduk.
·         Cawan penguap.
·         Kertas saring.
·         Gelas wool atau kapas.
·         Pipet tets.
·         Kawat kasa.
·         Kaki tiga.
5.2  Bahan.
Adapun beberapa bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
·         Air suling.
·         Asam benzoate 0,5 gram.
·         Naftalen.
·         Es batu.

VI.                   VI. Prosedur Kerja.
6.1  Prosedur percobaan rekristalisasi.
·       Dituangkan 50 ml air suling ke dalam gelas kimia 100 ml.
·       Dipanaskan hingga timbul gelembung – gelembung.
·      Dimasukkan 0,5 gram asam benzoate tercemar ke dalam gelas kimia 100 ml yang  lain.
·       Ditambahkan air panas tersebut sedikit samil diaduk hingga larut semua.
·      Disaring campuran tersebut dengan menggunakan corong Buchner dalam keadaan panas dan ditampung fitratya dalam gelas kimia.
·       Disiramlah endapan yang tertinggal dengan air panas.
·       Dijenuhkan. Didinginkan hingga terbentuk Kristal. Apabila pada pendinginan tidak terbentuk Kristal, didingikan dalam es.
·       Disaring Kristal yang terbentuk dengan corong Buchner, dikeringkan.
·     Diujilah titik leleh dan bentuk kristalnya, dibandingkan dengan data dalam hand   book.

6.2  Sublimasi.
·      Dimasukkan 1 – 2 gram naftalen tercemari ke dalam cawan penguap.
·     Ditutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah dibuat lobang lobang kecil.
·       Disumbat corong dengan gelas wool atau kapas seperti pada gambar.
·    Diletakkan cawan tesebut diatas kasa dari pembakar, nyalakan api dan panaskan dengan nyala api kecil.
·   Hentikan pembakaran setelah semua zat yang akan disublimasikan habis (lebih kurang 5 menit).
·      Dikumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong bila ada, diuji titik leleh dengan kristalnya, dicocokan dengan data hand book

Buat yang ingin tahu lebih lanjut bagaimana cara menentukan pemurnian zat padat dengan cara sublimasi, mari simak video berikut ini:

Untuk mengetahui sebatas mana pemahaman kalian, Yuk jawab pertanyaan dibawah ini!
1.      Dari percobaan pada video tersebut. Megapa sampel dan pengotor dalam gelas kimia ditutup dengan cawan porselen berisi es batu, sedangkan dilakukan pemanasn dengan hot plate?
2.      Dari proses sublimasi dan pengkristalan apa perbandingan yang paling menonjol dari kedua peristiwa tersebut?
3.       Zat apa yang terkandung dalam kapur barus sehingga terjadi proses sublimasi?